Showing posts with label Short Story. Show all posts
Showing posts with label Short Story. Show all posts

Wednesday, January 23, 2008

Semangkuk Bakmi

Pada malam itu, Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.
Saat
menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang.Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata:

"Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?'' Ya, tetapi, aku
tidak membawa uang' jawab Ana dengan malu-malu' Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu' jawab si pemilik kedai. 'Silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu'.Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi.

Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang. ' Ada apa nona?' Tanya si pemilik kedai.'tidak apa-apa' aku hanya terharu jawab Ana sambil mengeringkan air matanya.'Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi !, tetapi,? ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah' 'Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri' katanya kepada pemilik kedai Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata:

"Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya' Ana, terhenyak mendengar hal tersebut.

"Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.Ana, segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya.Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah:

"Ana kau sudah pulang, cepat masuklah, Ibu telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang". Saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis dihadapan ibunya.
___________________________________________________________________

Sekali waktu, kita mungkin akan sangat berterima kasih kepada org lain disekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikan kepada kita.Tetapi kepada orang yang sangat dekat dengan kita (keluarga) khususnya orang tua kita, kita harus ingat bahwa kita berterima kasih kepada mereka seumur hidup kita.

From: warjiya.whfg@bks.sulindafin.com

Thursday, August 30, 2007

Saya Pernah Datang dan Saya Sangat Patuh

True Story

Kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang
bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim
piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu
kata terakhir yang ia tinggalkan adalah "saya pernah datang dan saya
sangat patuh". Anak ini rela melepaskan pengobatan, padahal sebelumnya
dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat
dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dan membagi dana tersebut
menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga
sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan
pengobatannya.

Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia
hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun
yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota
Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak
menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil
ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya.

Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana
papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, di sanalah
papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat
menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis,
20 November jam 12. Melihat anak kecil ini menangis dengan suara
tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang
yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan
berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan
berkata, "saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan".
Kemudian papanya memberikan dia nama Yu Yan.

Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan
seorang anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu membeli susu bubuk,
hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras).
Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi
anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan
pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar
biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari
kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah
ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.

Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur
lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci
baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan
baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain
memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa.
Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia
harus menjadi seorang anak yang patuh dan tidak boleh membuat papa
menjadi sedih dan marah.

Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti,
harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa
membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia
tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya.
Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya di ceritakan kepada
papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang
susah untuk menguji papanya. Setiap kali melihat senyuman papanya, dia
merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang
memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat
berbahagia.

Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu
pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci
mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya.
Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut.
Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik.
Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengerluarkan darah dan
tidak mau berhenti. Di pahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah.
Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit
untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan
nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri
dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari
hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena
papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk
menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh
menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar
dari hidung Yu Yuan.

Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk
diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena
Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang
memerlukan biaya sebesar 300.000 $. Papanya mulai cemas melihat anaknya
yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu
menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang kesanak
saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit.

Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang
merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam
waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.

Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus.
Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan
papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar.
"Papa saya ingin mati".

Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, "Kamu baru berumur
8 tahun kenapa mau mati". "Saya adalah anak yang dipungut, semua orang
berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini,
biarlah saya keluar dari rumah sakit ini."

Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal
huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang
berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan
dengan pemakamannya sendiri. Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu
Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta
dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto.
Yu Yuan berkata kepada papanya: "Setelah saya tidak ada, kalau papa
merindukan saya lihatlah melihat foto ini".

Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan
membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya.
Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak
bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya.
Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia
memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk
tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak
bisa menahan air matanya yang mengalir keluar.

Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat
kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas
dari pohon dan hilang ditiup angin. Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan
dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan,
menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yg berumur
8 tahun mengatur pemakamakannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh
kota Rong Cheng.

Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini,
dari ibu kota sampai satu negara bahkan sampai ke seluruh dunia. Mereka
mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini".
Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi
setiap orang. Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang
Chinese didunia saja telah mengumpulkan 540.000 dolar. Biaya operasi pun
telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh
cinta kasih semua orang.

Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan tetapi dana terus
mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter
sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan
pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu
Yuan. Ada seorang teman di-email bahkan menulis: "Yu Yuan anakku yang
tercinta saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit.
Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa
tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta."

Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan
menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah
terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk
terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia
sangat menderita di dalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan
kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini
membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min
berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang
sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi
Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan
pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan
dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan
tidak meneteskan air mata.

Yu yuan yang dari dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat
kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan
untuk menjadi anak perermpuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak
terbendung.

Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu
memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu,
Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, "Anak yang
baik". Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen
dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk
menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email.
Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos
sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan dipencernaan dan selalu
selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan
sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari
kesembuhan Yu Yuan.

Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah
menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain.
Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik
Yu Yuan semakin lemah.

Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan:
"Tante kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan
kepada wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab, karena mereka
semua adalah orang yang baik hati". Yu Yuan kemudia berkata: "Tante saya
juga mau menjadi orang yang baik hati". Wartawan itupun menjawab, "Kamu
memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa
berubah menjadi semakin baik". Yu yuan dari bawah bantal tidurnya
mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. "Tante ini
adalah surat wasiat saya."

Fu yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu
Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah
seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah
kematian dan di atas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan
dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan
diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.

Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada
sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas
sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong,..... ..
Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada
orang- orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar.
"Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa
saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah
saya. Dan katakana ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya
meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit
seperti saya. Biar mereka lekas sembuh". Surat wasiat ini membuat Fu
Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.

"Saya pernah datang, saya sangat patuh", demikianlah kata-kata yang keluar
dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan
dipencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa
mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri
makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat
pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun
secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer
darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan
para perawat pun ikut menangis.

Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak
bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut
akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima
kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air.
Sungguh telah pergi kedunia lain.

Di kecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar
kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita
dengan karangan bunga yang ditumpuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda
berkata dengan pelan "Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil
diatas langit, kepakkanlah kedua sayapmu. Terbanglah.. ......... ...."
demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan
gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis
mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa mama Yu Yuan yang tidak
dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena
leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa
mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.

Didepan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa.
Diatas batu nisannya tertulis, "Aku pernah datang dan aku sangat patuh"
(30 nov 1996 - 22 agus 2005). Dan di belakangnya terukir perjalanan
singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia
masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis
kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu.

Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan
kepada anak-anak penderita leukimia lainnya. Tujuh anak yang menerima
bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu,
Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini
semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin
yang berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu
Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang
mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut. "Saya telah menerima
bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan kamu pasti sedang
melihat kami diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga
akan mengukirnya dengan kata-kata "Aku pernah datang dan aku sangat
patuh".

_________________________________________________________
Kesimpulan:

Demikianlah sebuah kisah yang sangat menggugah hati kita. Seorang anak
kecil yang berjuang bertahan hidup dan akhirnya harus menghadapi
kematian akibat sakit yang dideritanya. Dengan kepolosan dan ketulusan
serta baktinya kepada orang tuanya, akhirnya mendapatkan respon yang
luar biasa dari kalangan Dunia.

Walaupun hidup serba kekuarangan, Dia bisa memberikan kasihnya terhadap
sesama. Inilah contoh yang seharusnya kita pun mampu melakukan hal yang
sama, berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, memberikan sedikit
kehangatan dan perhatian kepada orang yang membutuhkan. Pribadi dan hati
seperti inilah yang dinamakan pribadi seorang Pengasih.


Posted by Temmie Iswanto

Shi Sang Chi You Mama Hau


Alkisah, ada sepasang kekasih yang saling mencintai. Sang pria
berasal dari keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota
tersebut. Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba
kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan inilah
yang membuat sang pria jatuh hati.

Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya
menikah, dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka duga, orang tua sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang yang
terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak reputasi
keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh yang sepadan
untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah
menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi dia.

Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan
wanita tsb bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus
berargumen dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya,
sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu,
umumnya seorang anak sangat tunduk pada orang tuanya).

Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang
tuanya agar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal
membujuk anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang menurut
mereka akan sangat merugikan masa depannya.

Sang pria akhirnya menetapkan pilihan untuk kawin lari.
Ia memutuskan untuk meninggalkan semuanya demi sang kekasih. Waktu
keberangkatan pun ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh
orang tua sang pria. Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya
di dalam kamar dan dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang besar.

Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat yang telah
ditentukan sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri. Sang wanita sangat
terkejut dengan kedatangan ayah dan ibu sang pria. Mereka kemudian memohon
pengertian dari sang wanita, agar meninggalkan anak mereka satu-satunya.
Menurut mereka, dengan perbedaan status sosial yang sangat besar,
perkawinan mereka hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota ,
reputasi anaknya akan tercemar, orang2 tidak akan menghormatinya lagi.
Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut
secara perlahan2.

Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan
permohonan agar wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan
anaknya lagi, dan menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat digunakan
untuk membiayai hidupnya di tempat lain.

Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar
bahwa perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak
kesulitan bagi kekasihnya. Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini,
tetapi menolak untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria, bukan
uangnya. Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan
akan sangat sulit?.

Ibu sang pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk
meninggalkan sepucuk surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia memilih
berpisah dengan sang pria. Ibu sang pria kuatir anaknya akan terus mencari
kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya. "Walaupun ia
kelak bukan suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang
berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua", kata sang ibu.
Dengan berat hati, sang wanita menulis surat . Ia menjelaskan
bahwa ia sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar
bahwa keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena telah
melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu bersama
dalam menghadapi penolakan2 akibat perbedaan status sosial mereka. Ia
tidak kuat lagi menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah.
Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut.

Sang wanita yang malang tsb tampak tidak punya pilihan lain. Ia
terjebak antara moral dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota
itu, sendirian. Ia menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia
bertekad untuk melahirkan dan membesarkan anaknya.

___________________________________________________________________

Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah menjadi
seorang ibu. Anaknya seorang laki2. Sang ibu bekerja keras siang dan
malam, untuk membiayai kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia
bekerja di sebuah industri rumah tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2
tetangga dan menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia
melakukan semua pekerjaan ini sambil menggendong anak di punggungnya.
Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak
memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat. Tetapi
sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya...

Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba2 sakit keras.
Demamnya sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tsb
harus menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah
menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan
itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada
siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman.

Saat diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk
membuat sup ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tsb
terdiri dari obat2 herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi
sang ibu hanya mampu membeli obat2 herbal tsb, ia tidak punya uang
sepeserpun lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak
mungkin, karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal,
dan belum terbayar.

Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu harus berbuat
apa, untuk mendapatkan daging. Toko daging di desa tsb telah menolak
permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian.
Diantara tangisannya, ia tiba2 mendapatkan ide. Ia mencari
alkohol yang ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain.
Setelah pisau dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil
sekerat daging dari pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang sedang
tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotong kain. Darah berhamburan. Sang
ibu tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha tidak
mengeluarkan suara kesakitan yang teramat sangat?..

Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan
kesakitan sang ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh
anaknya sendiri. Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan yang
sedang dilakukan oleh sang ibu ............ .

___________________________________________________________________

Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak
yang tampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang ibunya. Di
hari minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut, bermain
bersama, dan bersama2 menyanyikan lagu "Shi Sang Chi You Mama Hau"
(terjemahannya "Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik").

Sang anak juga sudah sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai
penjaga toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari.
Hari2 mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak
terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di malam
hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu tambahan
biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.

Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia
berniat membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama
ini. Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak
setelah pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak
terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih banyak
keperluan lain yang perlu dibiayai.

Sang anak segera pergi ke toko tsb, yang tidak jauh dari
rumahnya. Ia meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan
tsb, karena ia akan membelinya bulan depan. "Apakah kamu punya uang?"
tanya sang pemilik toko. "Tidak sekarang, nanti saya akan punya", kata
sang anak dengan serius.

Ternyata, bulan depan sang anak benar2 muncul untuk membeli jam
tangan tsb. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main2.
Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya "Dari mana kamu
mendapatkan uang itu? Bukan mencuri kan ?". "Saya tidak mencuri, kakek.
Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang
pergi ke sekolah. Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari
sekolah ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli jam
ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku
tentang hal ini. Ia akan marah" kata sang anak. Sang pemilik toko tampak
kagum pada anak tsb.

Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang
anak segera memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan
tsb. Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam
tangan ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba2 tersadar, dari
mana uang untuk membeli jam tsb. Sang anak tutup mulut, tidak mau
menjawab.

"Apakah kamu mencuri, Nak?"Sang anak diam seribu bahasa, ia
tidak ingin ibu mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut.
Setelah ditanya berkali2 tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa
anaknya telah mencuri. "Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri.
Bukankah ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?" kata sang ibu.
Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu
sayang pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak
menangis, sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu
perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus
melakukannya, demi kebaikan anaknya.

Suara tangisan sang anak terdengar keluar. Para tetangga menuju
ke rumah tsb heran, dan kemudian prihatin setelah mengetahui
kejadiannya. "Ia sebenarnya anak yang baik", kata salah satu tetangganya.
Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu
tetangganya yang merupakan familinya.

ketika ia keluar melihat ke rumah itu, ia segera mengenal anak
itu. Ketika mengetahui persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk
menjelaskan. Tetapi tiba2 sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon
agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.

"Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan
tidak boleh menyembunyikan sesuatu dari ibunya". Sang anak mengikuti
nasehat kakek itu. Maka kakek itu mulai menceritakan bagaimana sang anak
tiba2 muncul di tokonya sebulan yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam
tangan tsb, dan sebulan kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang
tadi di tokonya, katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga
menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke
rumah dan tidak jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan
uang membeli jam tangan kesukaan ibunya.

Tampak sang kakek meneteskan air mata saat selesai menjelaskan
hal tsb, begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu segera memeluk anak
kesayangannya, keduanya menangis dengan tersedu-sedu."Maafkan saya, Nak."
"Tidak Bu, saya yang bersalah".............. ..

___________________________________________________________________

Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah,
tetapi istrinya mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat sedih
akan hal ini, karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka kelak.
Ketika sang ibu dan anaknya berjalan2 ke kota , dalam sebuah
kesempatan, mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru
menyadari bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah dagingnya
sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia menanggung
semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami bisa hidup dengan
baik tanpa bantuanmu.

Berita ini segera diketahui oleh orang tua sang pria. Mereka
begitu ingin melihat cucunya, tetapi sang ibu tidak mau mengizinkan.

___________________________________________________________________

Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh. Dokter
mengatakan bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan yang
konsisten. Kalau kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya.

Keuangan sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya.
Tetapi biaya medis tidaklah murah, ia tidak sanggup membiayainya.
Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan
solusi yang tepat. Satu2nya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada
sang ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai perawatannya.
Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak anaknya
berkeliling kota , bermain2 di taman kesukaan mereka. Mereka gembira
sekali, menyanyikan lagu "Shi Sang Chi You Mama Hau", lagu kesayangan
mereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua penderitaannya, ia hanyut
dalam kegembiraan bersama sang anak.


Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak.
Sang anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin
dengan ibu. "Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak" kata
ibu. "Tidak apa2 Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa
bersama2 dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak uang
untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu bekerja
lagi, Bu", kata sang anak. Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah
sang ayah keesokan harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat.

Disana ia diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya
sangat senang melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang,
sang anak meronta2 ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan
mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama
ibunya, sang anak menolak. "Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu",
teriak sang anak dengan nada yang polos. Dengan hati sedih dan menangis,
sang ibu berkata "Nak, kamu harus dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini.
Ayah, kakek dan nenek akan bermain bersamamu." "Tidak, aku tidak mau
mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang
saya? Ibu sekarang tidak mau saya lagi", sang anak mulai menangis.

Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb
tidak didengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu2 "Kalau ibu
sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu". Sampai pada akhirnya, ibunya
memaksa dengan mengatakan "Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah
disini", ibunya segera lari keluar meninggalkan rumah tsb. Tampak anaknya
meronta2 dengan ledakan tangis yang memilukan.

Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu
menyayat hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan
menjenguk anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan
baik. Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia
telah kehilangan satu2nya alasan untuk hidup, anaknya tercinta.
Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur untuk
memotong urat nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar bahwa anaknya
mungkin tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia harus hidup untuk
mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan baik. Segera, niat bunuh diri
itu dibatalkan, demi anaknya juga.......... ..

___________________________________________________________________

Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain,
mendapatkan kerja yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun
tetap menjalani perawatan medis secara rutin setiap bulan.
Seperti biasa, sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya.
Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah
mengumpulkannya. Maka, pada hari tsb, sepulang dari sekolah, ia tidak
pulang ke rumah, ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya,
yang memakan waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai
bunga, sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah
kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus. Ia
akan memberikan semuanya untuk ibu.

Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang kecil menuju
rumahnya. Tetapi ketika sampai di rumah, ia mendapati rumah ini telah
kosong. Tetangga mengatakan ibunya telah pindah, dan tidak ada yang tahu
kemana ibunya pergi. Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di
depan rumah tsb, menangis "Ibu benar2 tidak menginginkan saya lagi."
Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah
terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan
semuanya sudah pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar.
Mereka panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi
pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang.

Ketika sang ibu sedang berpikir keras, tiba2 ia teringat sesuatu. Hari ini
adalah hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya
mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil
menuju rumah tsb. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun,
setangkai bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang
ibu tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan2 imut anaknya
dalam surat itu.

Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar desa tsb, tanpa
mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah. Kemudian sang ibu
membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan Im, sambil menangis ia
memohon agar bisa menemukan anaknya.

Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba2 ingat bahwa ia dan anaknya
pernah pergi ke sebuah "tempat peribadatan" di desa tsb. Ibunya pernah berkata,
bahwa bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Tuhan yang
welas asih. Tuhan pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik.
Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke tempat tsb untuk
memohon agar bisa bertemu dengan dirinya.

Benar saja, ternyata sang anak berada di sana . Tetapi ia
pingsan, demamnya tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya
untuk dilarikan ke rumah sakit. Saat menuruni tangga bangunan, sang ibu
terjatuh dari tangga, dan berguling2 jatuh ke bawah.......... ..

___________________________________________________________________

Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki
bangku kuliah. Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan
ibunya. Sejak jatuh dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang anak
telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana2, tetapi
hasilnya nihil.

Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan
teman wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil, di
persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang sedang
mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan tampak memakai tongkat. Ia tidak
pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya kumal, dan ia tampak
berkomat-kamit.

Di dorong rasa ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama
pacar untuk menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua
sambil mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan
lemah "Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?"

Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera
menyanyikan lagu "Shi Sang Ci You Mama Hau" dengan suara perlahan, tak
disangka sang pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka
berdua menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu
menyanyikan lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua
itu dan berteriak dengan haru "Ibu? Ini saya ibu".

Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba2 muka sang anak, lalu bertanya,
"Apakah kamu ??..(nama anak itu)?" "Benar bu, saya adalah anak ibu?".
Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur membasahi
bumi ............... .

Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya
menjadi hilang ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh tahun terus
mencari anaknya, tanpa peduli dengan keadaaan dirinya. Sebagian orang
menganggapnya sebagai orang gila.

_________________________________________________________________

Perenungkan untuk kita renungkan bersama-sama:
Dalam kondisi kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu
bahkan rela mengorbankan nyawanya..

Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut ini, di saat Ibu masih muda,
ataupun disaat Ibu sudah tua :
1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah
aku sebagai gantinya.

2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya.

Diantara orang2 disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung
Anda, diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela
mengorbankan nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara
apapun ...........

Tidak diragukan lagi "Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia ini"

_________________________________________________________________


Note:
Seperti yang dikisahkan oleh sdri Maya Oktarina (maya@lginnotek.com)

Wednesday, June 27, 2007

Edelweis Semusim

Entah sudah berapa kali Anandar bangkit dari tempat duduknya di depan api unggun. Tempat duduk dari tunggul kayu sebesar perut kambing yang telah lama tumbang berpahat alur-alur relief kehidupan bangsa rayap yang nyaman untuk diduduki. Semak-semak eurih di balik tunggul kayu menampilkan rona jingga, memantulkan cahaya perapian diselingi latar kegelapan malam. Sebaris pohon pinus riuh rendah semarak tertiup angin. Tepat dibawahnya, bunga-bunga perdu rhododenrum telah melayu terbakar siangnya dari terik matahari musim panas bulan agustus. Anicca – tiada mahkluk yang abadi.

Tenda dome biru tua di seberang tunggul kayu cemara di depan api unggun, tampil anggun bergoyang-goyang seirama hembusan angin lembah Ciremai. Sekoyong –koyong sekelebatan cahaya melintas sesaat lalu musnah diiringi hentakan bunyi benda keras bertumbukan, samar-samar sebentuk papan kayu bergelayutan pada sebatang tiang besi dalam temaram kilauan cahaya api unggun yang meliuk menari tertiup angin, “1600 dpl shelter 1” terbaca. Sesekali melintas kelompok-kelompok kecil pendaki berpakaian tebal yang sengaja memaksa menembus malam menuju shelter 2 di lereng gunung.

Dari tunggul kayu itu, puncak Ciremai tampak gelap angker. Diselimuti kabut tebal, kokoh menjulang menembus dinginnya udara malam. Sementara dari arah bawah lembah, kerlip lampu di perkampungan penduduk Argalingga menyuguhkan siluit warna-warni. Mengahapus rasa ngeri dalam gulita, menghibur hati nan lara.

Anandar laun-laun bangkit dan berjalan beberapa langkah ke arah gunung, matanya yang tajam menatap nanar ke sekelilingnya. Kemudian buru-buru kembali duduk di tunggul kayu. Seolah-olah ia tak ingin berpisah dari tunggul kayu itu, meski hanya sewaktu. Di pandanginya gelas yang terisi coklat hangat tinggal setengah disamping nesting lalu dihirupnya hingga habis, tak ada lagi yang tersisa buatnya bahkan buat semut sekalipun.

Tetapi, Raiha Sairahana belum juga muncul di tunggul itu. Tunggul kayu di base camp shelter 1 lereng gunung Ciremai, tempat ia menanti sebuah janji dan ia akan terus seperti itu, tetap menanti.
___________________________________________________________________

Sore terakhirnya di kaki Ciremai menjelang pendakian, tentu saja dihabiskan dengan banyak persiapan dan istirahat. Mendaki puncak tertinggi di jawa barat telah membuatnya harus berada di tempat sunyi-senyap dingin itu selama dua hari dua malam. Kegiatan mendaki gunung telah ditekuni Anandar bersama club Lintas Wana selama satu tahun terakhir. Bukan suatu kebetulan belaka menekuni hobi ini. Adalah suatu petualangan dari banyak perjalanan yang telah ia lalui, sekedar mencari jatidiri? Entahlah.

Seperti sore sebelumnya dalam dua hari terakhir, Anandar selalu duduk di tunggul kayu yang sama. Makan mie rebus yang sama pula. Ia tak pernah menyia-nyiakan waktu untuk melihat-lihat aneka rasa mie yang akan di santap. Setiap detiknya ia manfaatkan untuk memandangi wajah ayu Raiha yang terduduk anteng di sampingnya menghadapi perapian api ungun, api yang menjilati nesting tempat merebus mie. Anandar tahu, ia tak akan sempat lagi melihat wajah mungil itu sampai saatnya kembali dari puncak nanti.

Anandar perlahan mengangkat nesting mie dari perapian yang sudah terisi mie panas. Lalu membagi sama rata dua piring setelah bumbunya di aduk kira-kira merata. Piring selanjutnya diserahkan pada Raiha hati-hati. Dengan kedua tangan mungilnya, Raiha menyambut pelan dengan sedikit tertunduk sehingga ubun-ubunnya tampak sekali oleh Anandar.

“ Silahkan, makan geulis” kata Anandar.
Bahkan dalam menunduk seperti itu Anandar masih sempat melihat wajah Raiha merona. Ah, betapa ingin Anandar menyentuh pipi selembut itu.
“ Kenapa akang selalu memanggilku begitu?”
“ Geulis dalam bahasa kita artinya cantik, bukan? Dan namaku bukan akang. Panggil aku Anandar. Pramudya Anandar! Hanya aku yang akan memangilmu geulis, semua orang sudah memanggilmu Raiha. Aku ingin kamu mengenangku dengan kata itu.”

Sejenak Anandar tertahan melepas pegangan nesting yang sudah bersambut kedua tangan halus Raiha. Sejenak jemari lembut itu menyentuh genggaman tangannya menghangatkan perasaan kalbu dalam dinginnya aroma malam. Dipandangi jari-jemari yang begitu bersih terpelihara, putih bersih dengan buku-bukunya yang berona merah muda.

Raiha begitu cantik, manis dan lembut. Tetapi bukanlah kecantikan yang membuat Anandar jatuh hati. Berbagai hal kecil yang dimiliki Raiha membuat Anandar terjatuh. Ketika tersipu, lesung pipinya merona merah. Geligi gingsulnya tak beraturan, tetapi menyajikan harmoni indah. Butir-butir keringat lembut menghiasi keningnya diantara bulu-bulu halus yang tumbuh indah. Rambut hitam tergerai erat memeluk pinggang ramping berselimut penutup kain putih. Suatu keajaiban unik saat berpadu kerendahan tutur kata dalam kehalusan budi.

Anandar melepaskan pegangan nesting perlahan memberi kesempatan Raiha untuk menariknya. Sesaat ada rasa sesal yang dalam, mengapa terlalu cepat menuntaskan sentuhan itu? Anandar masih ingin manikmati jari-jari polos tanpa sebentuk cincin perhiasan itu lebih lama lagi. Jari-jemari bermahkotakan kuku-kuku indah yang terawat rapi tanpa pewarna. Ah, ingin sekali Anandar menarik segenggam tangan halus itu ke bibirnya, kemudian mengecupnya lembut beberapa masa. Betapa ia pun ingin sekali membawa jari-jemari lembut itu untuk mengelus dan membelai pipinya dalam kedamaian mahligai hati.

Segera Raiha menarik pegangan nesting mendekat ke hadapannya, membiarkan aroma bumbu uap panas mie rebus menyapu puas menikmati seluruh wajahnya yang putih memerah.
“Rasanya dengan kondisimu sekarang ini, tidak akan memungkinkan untuk bisa melanjutkan perjalanan menuju puncak Ciremai” kata Anandar memulai pembicaraan

Anandar tahu ia tak akan mendapatkan suatu patah kata pun darinya. Segumpal perasaan kecewa dan sesal bercampur aduk dalam dada Raiha telah mencekik tengorokan. Harapan besar berlalu sudah dari hadapannya, mendaki puncak Ciremai untuk memetik setangkai edelweis. Mereguk semangat perjuangan dan pengorbanan yang tak pernah padam – Sebuah cinta yang teramat luhur.

“Mengenai keinginanmu, bila tidak keberatan biarlah aku yang akan mengambilkannya untukmu.” Lanjutnya
“Tetapi,...bukankah sangat berbahaya juga buatmu?” ada kegundahan dalam hati Raiha.
“Ini sore terakhirku bersamamu, esok pagi aku segera berangkat naik ke puncak. Ingin sekali kupetik edelweis itu untuk kupersembahkan kepadamu” kata Anandar mengacuhkan peringatan.

Raiha mengangkat wajahnya tersentak. Ditatapnya wajah Anandar. Sejenak dibiarkanya pandangan Anandar menyapu setiap jengkal wajahnya tanpa berkedip. Ah, air matakah yang terlihat Anandar bergelanyut di sudut-sudut mata Raiha? Sosok dihadapanya seolah-olah tampak begitu bening, seakan-akan pandangannya menembus raga. Pada hati itu, terlihat suatu relung cinta yang teramat bersih. Perlahan, air ketulusan itu mengalir membentuk sungai ketakberdayaan pada sejemput pipi lembut Raiha. Pipi lugu yang merona tanpa setumpuk debu pemulas. Manis terasa bahkan tanpa pemanis sekalipun

"Aku takut!..masih adakah waktu yang tersisa? Aku ingin akang tetap menemaniku disini..Aku suka tempat dan suasana ini, entah kapan bisa seperti ini lagi" akhirnya, dalam tertunduk sebutir air mata telah jatuh menetes. Lama sudah Raiha untuk menahan rasa itu.
“Percayalah!...kita akan selalu kembali ke tempat ini bila setiap musim datang” sambil menarik sebelah tangan Raiha kedalam gengaman tangan kukuh, menyejukan.
“Janji?” bisik Raiha. Sejentik kelingking lentik mengail memancing ke udara.
“Mmm” sambut Anandar segera, menutup pembicaraan.
Malam kian larut dalam gelap, hanya menyisakan onggokan bara api yang sesekali menerang tertiup angin.

Sesaat sebelum gelap sirna, sebelum Anandar dan para pendaki lainnya sampai di alam nyata dari buaian mimpi. Sesosok bayangan ringkih ber-carrier meniti undak demi undak tanjakan terjal menuju puncak Ciremai, licin dan berkerikil. Di iringi gerimis dan kabut tebal, bayangan itu telah menghilang tak lebih sepeminuman teh. Berlawan dengannya, tidak sedikit pendaki tampak tergesa-gesa turun muncul dari balik kabut gelap, bahkan setengah berlari. Tak berapa lama, udara di sekitar berubah menjadi lebih terasa dingin kemudian gemuruh angin kencang tiba-tiba menerpa seolah-olah ingin menyertai kepergian sosok tadi menuju puncak. Sekoyong-koyong sekelebatan petir berlalu membelah gelap menyilaukan mata. Lambat laun gerimis pun berubah menjadi hujan lebat. Hujan tersebut tidaklah terlalu membasahkan para pendaki namun cukup menyakitkan bila mengenai tubuh meski berbalut raincoat tebal. Bila diperhatikan, air hujan itu membentuk gumpalan padat keputihan, Aah!..badai es.
___________________________________________________________________

Setahun telah berlalu, edelweis itu masih tergengam dalam balutan tangan hampa. Tiada lagi tempat untuk jemari indah menyambut, dan tak akan ada lagi yang lainnya. Tafkala takdir datang, manusia sekedar puing-puing berserakan. Menggunung asa tanpa keberdayaan. Bersama angin para pecinta telah pergi menuju ke kehidupan lain alam yang sama sekali tidaklah sama.

Sayup sayup terdengar lirih menghiba, “Kekasih, telah kupenuhi janjiku, semoga engkau tenang disana, percayalah!.. musim depan aku akan kembali kesini menunggumu dan terus akan menungu” lalu suara itu hilang di telan kebisuan malam.

Sebelum cahaya datang, tenda dome biru itu telah lenyap bersama harapan. Meningalkan asap yang mengalun ke angkasa dari perapian api ungun yang tiada akan pernah menyala lagi, sesaat kemudian buyar tertiup angin gunung. Pada tunggul kayu itu, tampak seikat edelweis tergeletak menguning.




Cikarang, memory di penghujung bulan agustus
by Taman Ilalang

eurih - ilalang
rhododenrum - sejenis bunga perdu-perduan
Anicca - fana
dome - berbentuk kubah
dpl - di atas permukaan laut
shelter - pos peristirahatan sementara
nesting - wadah penyimpanan, rantang
base camp - pos utama, tempat kegiatan utama
club - perkumpulan
ayu - cantik, manis, molek
anteng - kalem, santai
geulis - cantik, manis, molek
akang - abang
edelweis - sejenis bunga perdu-perduan, biasa tumbuh di sekitar puncak gunung. tidak melayu.
carrier - tas ransel
raincoat - jas hujan